LEAK DALAM PERSPEKTIF MASYARAKAT BALI DAN IMPLIKASI SOSIALNYA TERHADAP KEUTUHAN DESA ADAT (Studi Etnografi Terhadap Masyarakat Hindu di Provinsi Bali)

Kamis, 5 Juli 2012 pukul 2:34 pm | Ditulis dalam Jurnal, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

ISSN 1979-7095 Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora
Volume 4, Nomor 2, Agustus 2010

Penulis:

I Wayan Lasmawan & I Gusti Ketut Sudiatmaka
Jurusan PPKn FIS Undiksha

Abstrak:

Secara akademis, penelitian ini ditargetkan menemukan teori yang menyeluruh dan holistik tentang alasan maknawi seseorang menekuni pengleakan (ilmu leak), aspek kognisi dan evaluatif tentang leak dilihat dari perspektif budaya Hindu, sistem ritual, aktivitas supranatural, dampak sosial leak terhadap masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnography. Lokasi penelitian adalah di provinsi Bali. Subjek penelitian ditetapkan secara purposive dan dikembangkan dengan snowball sampling. Alat pengumpul data terdiri dari: lembar observasi, pedoman wawancara, quisioner, dan studi dokumentasi. Keseluruhan data penelitian dianalisis dengan teknik kualitatif model analisis siklus interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat beberapa alasan seseorang menekuni atau mempelajari ilmu leak atau aji penestian, antara lain: karena warisan atau silsilah keluarga, karena kesadaran dan keinginan sendiri, karena pawisik atau panganugrahan, dan karena alasan dendam atau kepentingan personal dan/atau kelompok, (2) Secara prinsip ilmu leak tidak mempelajari bagaimana cara menyakiti seseorang, yang di pelajari adalah bagaimana dia mendapatkan sensasi ketika bermeditasi dalam perenungan lina aksara. Terdapat 7 (tujuh) tingkatan atau jenjang leak berdasarkan kematangan atau tingkat ilmu yang dikuasainya, yaitu: leak barak (brahma) ini baru bisa mengeluarkan cahaya merah api, leak bulan, leak pemamoran, leak bunga, leak sari, leak cemeng rangdu, dan leak siwa klakah, (3) pembelajaran awal ilmu leak, ditandai dengan pengenalan ”aksara wayah” atau ”modre” yang merupakan ”ejaan awal untuk menekuni ilmu pengleakan”, kemudian perajahan yang dilakukan di areal kuburan pada tengah malam dan kajeng kliwon enyitan. Setelah proses tersebut dilalui, tahap berikutnya adalah pengucapan dan pengambilan sumpah sisya oleh guru, kemudian pemberian pelajaran inti pengleakan, mulai dari mengatur pernafasan sampai ”mekek angkihan”, ”ninggalin sanghyang menget”, ”ngerakse rage/jiwa”, ”ngeregep rage/kawisesan”, ”ngereh” atau ”ngelekas”, dan melepas roh, (4) di kalangan masyarakat desa adat di Bali, informasi mengenai ilmu leak masih simpang siur dan relatif mengarah pada hal-hal yang negatif, dan (5) desa adat memiliki fungsi dan peranan yang sangat strategis dalam kaitannya dengan pengendalian dan antisipasi dampak negatif dari ilmu leak dan aji penestian.

Kata-kata kunci: ilmu leak; aji penestian; implikasi sosial; desa adat

DOWNLOAD PDF

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: